WC membawa petaka

Hari Kamis, 23 April 2009, jam 1-an siang, pergi ke kampus ada suatu urusan. Waktu itu sakit mata belum sembuh :D
Sampe di kampus, ketemu Aldy dan Yoga di bawah tangga. Lagi jaga posko Parade mereka. Ngobrol2 sebentar ga jelas, abis itu karena ada yang pengen di kluarkan(aka kencing) maka pergilah ke WC lantai 1 TC yang sebelah kiri (soalnya yg sebelah kanan WC wanita..:D)

Seperti biasa, masuk ke kamar yg sebelah kanan,tutup pintu *jreekk*. Ada yang janggal!!! Gagang pintunya rasanya aneh, ga kayak biasanya. Ternyata gagang pintunya macet. Ga bisa dibuka. Aaahhh… sial!! Aku ternyata jadi korban terkunci di kamar mandi itu ke 152(masa’ sih??).

Dengan panik, ku gedor2, ku tarik2, ku pukul2, ku banting2 gagang pintu itu. Sampe ku congkel2 pake segala peralatan yang ada di tas (waktu kekunci itu, aku memakai peralatan komplit mau kuliah, dari sepatu, tas, hem.dll).

Yaudahlah, dengan wajah putus asa, diputuskan kencing dulu (karena niat awalnya memang ini) baru ngelanjutin usaha membuka pintu. Setelah ritual selesai dilaksanakan, dilanjutkan kembali misi “escape from fantasy”. Setelah segala cara ga membuahkan hasil, maka diputuskan cara terakhir (cara yang biasanya dipakai oleh mantan2 korban WC ini) yaitu memanjat bagian atas kamar mandi itu.

Dengan susah payah akhirnya, bisa keluar dari mimpi buruk ini. Untung saja ga ada sapa2 disitu, bisa malu aku klo kliatan manjat2 kayak maling gitu, lengkap dengan peralatan kuliah lagi… :D

Mata Merah

Akhirnya aku kena juga sakit mata yang satu ini, entah apa nama penyakit ini dalam bahasa ilmiahnya. Yang jelas sakit yang satu ini benar-benar njengkelin. Gimana ga, yang sakit cuma mata kiri, tapi yang merasakan “sakit”-nya kok rasanya semua badan.

Wabah yang satu ini memang lagi menjangkiti anak2 TC. Ga tau sapa yang mulai, klo aku sih yang menularkan ke aku kemungkinan besar pelakunya adalah FAJAR!!! Tak di ragukan lagi, pelakunya adalah orang ini. Orang yang merupakan calon tunggal tak terbantahkan Ketum SITC periode 2009/2010 ini (halah OOT!!) kemungkinan menularkannya ketika “asistensi” SC Mubes vs PH bareng Bang Gibran, pada tanggal 15 April 2009.

Ketika itu kami berempat dari SC Mubes (Aku, Ucup, Ucup Hai, Fajar) sedang diskusi di lantai 3 ujung deket kamarnya dosen2 muda. Mata Fajar waktu itu lagi berkaca-kaca (bukan kiasan, memang bener2 berkaca-kaca :D), kayak orang baru bangun tidur, dan matanya MERAHHH!!

Entah bagaimana virusnya bisa nyampe mataku. Malam harinya sih, ga terjadi apa2, tak ada kecurigaan yang aneh. Keesokan harinya, kamis, mata rasanya kok gatel2. Tapi ga sampe merah2 gitu. Besoknya lagi, hari jumat, hari terakhir UTS, mata kiri uda menampakkan tanda2 keganjilan.

Akhirnya pada hari jumat itu, aku resmi sebagai korban mata merah. Benar-benar penyakit yang menjengkelkan, klo sujud agak lama dikit aja, rasanya darah menumpuk dan menusuk-nusuk mata. Dibuat ngliat kompi, mata langsung berair kayak anak kecil nangis. Sebenarnya dua hari pertama itu, mata merahnya biasa2 aja. Kayak orang2 pada umumnya (weleh2).

Tp berhubung waktu itu ga ku apa2in, alias mataku kubiarin gitu aja tanpa pertolongan yang berarti (apalagi sering kena debu jalan di depan kampus), lama-kelamaan mata ini rasanya makin berat. Penderitaan makin ga karuan. Dengan berat hati, maka belilah obat tetes mata insto.

Hari sabtu, 18 April 2009 adalah praktikum PBD. Praktikum yang satu ini bener2 penderitaan tiada tara (hlah lebay!!). Praktikum siang-siang jam 1, labrog padat kayak gitu, ACnya ga kerasa sama skali, maka bercucuran keringatlah para praktikan. Klo aku sih, selain bermandikan keringat asin, mata ini juga bercucuran kayak orang yang menangisi nasibnya (mungkin ini yang disebut mata air buaya :D).

Mata tambah pedih, air mata bercucuran tiada henti, soal njelimet ga jelas apa maksudnya, partnerku ga datang (sial! Karibi entut!!!), lengkaplah kesialanku hari itu. Rasanya bisa ngerjain 2 soal dari 10 adalah suatu keajaiban (Hahaha…)

Dari hari-kehari penyakit ini makin parah aja menggerogoti mata kiriku. Padahal aku masih ada tanggungan bikin video logo2 Lab 3D buat PIMITS hari seninnya. Padahal mata ini ga kuat klo lama2 di depan kompi. Yaudahlah, maka kusuruhlah Hisyam yang ngerjain sisa2 videonya yg belum selesai.

Minggu malam itu, Hisyam ngerjain di kosku, sambil ku arah2in ini itu. Setelah selesai, maka tinggal tunggu renderannya selesai. Hisyam tidur di kamarku. Keesokan subuhya, bangun2 ternyata hisyam uda menghilang pulang ga pamit (mungkin pamit pas aku lagi tidur :D).

Ku SMS si hisyam buat ngasi video jadinya ke Teja, maka datanglah hisyam ke kosku dengan kacamata. Jeng…jeng..jeng… Ternyata hisyam telah sukses ku tularin virus mematikan yang satu ini. Ga hanya satu mata, tapi kedua mata hisyam sukses ku tularin. (hahahaha… suatu prestasi yang membanggakan).

Seharusnya sih atas saran sana sini, aku disuruh cek ke dokter. Karena aku alergi sama dokter, maka saran teman2 ini ga ku turuti. Cuma, ku sms ke omku yg dokter, minta kasih tau obatnya apa… (hehhe…).

Berhubung mata ini tambah parah, maka diputuskan hari Senin dan Selasa ga ke kampus. Istirahat dan tidur berjam-jam di kamar. Untung saja 2 hari itu dosennya lagi ga ngajar (benar2 beruntung).

Yang bikin penyakit ini njengkelin adalah mata berair ga henti2nya, di tambah keluar kotoran mata yang juga ga berhenti2 kluar, ditambah gatal2 yang menggoda tangan untuk mengucek2, pandangan mata kiri burem kayak orang katarak gara2 kotoran mata yang kluar terus2an. Entah berapa meter tisu yang ku habisin buat mbersihin/ ngelap mata dari kotoran2 ga diinginkan ini (yeekk).

Dan akhirnya sembuh juga setelah seminggu menderita (waktu yg lama di bandingin teman2 yg lain). Dan aku baru tau ketika ngampus ternyata banyak sekali anak2 TC yang kena. Aku tidak sendiri ternyata. (hahahaha). Sebut saja yg jadi korban itu Bunga, Melati, Budi, dkk (nama sengaja disamarkan untuk menjaga privasi org itu :D).

(Sebenarnya masih ada yang aku heranin sampai sekarang, yaitu abis meneteskan obat mata, rasanya tenggorokan ini kok pahit ya? Apa hubungannya tenggorokan sama mata??? :D)